Beranda

DAFTAR BERITA

Sabtu, 06 November 2010

Saatnya Sarjana Agama Jadi Anggota Densus 88


TRIBUNNEWS.COM
SISIR WILAYAH- Anggota Densus 88 Anti Teror, bersama anggota Polda Jabar, dan Tim dari Mabes Polri, menyisir wilayah sekitar kontrakan milik Joko, yang didiami Fachri (tersangka teroris) bersama dua orang temannnya, Sabtu (7/8/2010) di Kampung Sukaluyu, RT 02 RW 12, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Kabupaten Bandung.
Sabtu, 6 November 2010 | 19:30 WIB
TRIBUNMANADO.CO.ID,JAKARTA - Pada masa mendatang, diharapkan anggota dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri adalah seorang sarjana agama.

"Orang-orangnya perlu mempunyai kemampuan dakwah, ustad lah. Polisi tapi ustad. Memiliki level diplomat lah," ujar Kabid Pencegahan Mabes Polri, Kombes Pol Herwan Chaidir saat acara Halaqah Penanggulangan Terorisme di Kantor MUI, Jakarta, Sabtu (6/11/2010).

Hal tersebut dilakukan agar dapat mengimbangi kecerdasan daripada pelaku teroris.

"Kita kan menghadapi orang-orang cerdas semua. Kita menghadapi situasi begitu. Mereka melakukan perlawanan," jelasnya.

Lebih jauh Herwan mengatakan, dengan adanya perubahan struktur organisasi Polri sesuai dengan Keppres nomor 52 Tahun 2010. Tugas Densus 88 semakin berkembang dan berat lagi.

"Sekarang ini dengan ke depan kita ingin jangan sampai orang mengecap densus identik dengan kekerasan, masuk pintu pasti ada kaca pecah. Seolah-olah kasar," jelasnya.

Densus 88, lanjut Herwan harus mau merubah mindset seperti itu apabila imagenya mau berubah.

"Kita mau merubah mindset seperti itu. Selama ini kita sudah lakukan dengan pendekatan-pendekatan. Tapi kelompok-kelompok radikal setiap hari melatih dirinya, mencari dana, melakukan perekrutan juga, ingin memaksakan paham mereka. Mereka tidak segan-segan melakukan ihtialad," tandasnya.

sumber :http://www.tribunmanado.co.id/read/artikel/10855
Simak Selengkapnya>>

Korban Tewas Tsunami Mentawai 447 Jiwa





BERDOA- Wapres Boediono dan rombongan berdoa untuk empat jenazah warga Dusun Muntei Baru, Pagai Selatan yang menjadi korban tsunami Mentawai, yang baru ditemukan relawan, Rabu (27/10/2010)
Sabtu, 6 November 2010 | 21:36 WIB
TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA- Hingga Sabtu (6/11/2010) malam,Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat (Sumbar) mendata sebanyak 447 orang meninggal akibat tsunami di Mentawai.
Hal tersebut diungkapkan staf ahli presiden bidang sosial dan bencana, Andi Arief yang diperolehnya dari laporan staf khusus presiden, Purwatmojo.

"Update data Posko BPBD Sumbar pukul 20.00 WIB, korban tsunami Mentawai yang meninggal 447 orang, hilang 56 orang, luka berat 173 orang, luka ringan 325 orangg dan mengungsi 15.353 jiwa," terangnya dalam akun twitternya.

Selain itu, dilaporkan pula bahwa tim rekonstruksi BNPB sudah melakukan survey untuk melakukan pembangunan kembali bagi korban tsunami di mentawai.

"Tim Rekonstruksi BNPB telah mulai melakukan survei untuk pembangunan," ujarnya.

Sebelumnya, keadaan jalur transportasi laut dari Padang ke Mentawai pada hari ini berjalan dengan lancar, dan distribusi bantuan di Mentawai sudah bisa tersalurkan dengan menggunakan speed boat untuk menyalurkannya ke daerah-daerah yang terisolir.

sumber :http://www.tribun-medan.com/read/artikel/8541/Korban-Tewas-Tsunami-Mentawai-447-Jiwa
Simak Selengkapnya>>

Tetapkan Bencana Nasional Merapi

AP PHOTO/NUSANTARA GEMBONG
TERPANGGANG - Warga Desa Argomulyo, Yogyakarta ditemukan tewas terpanggang dalam abu vulkanik, Jumat 5 November 2010. Gelombang awan panas membakar rumah-rumah penduduk di sekitar lereng Merapi.
MERAPI benar-benar menciptakan "neraka" di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelas hari meletupkan material vulkanik, Jumat (5/11), awan panas Merapi memanggang sedikitnya 73 warga sekitar.

Harta benda penduduk hancur-lebur diterjang awan panas, lahar dingin, hujan kerikil maupun abu vulkanik. Wajah Yogyakarta pun berubah total, abu-abu. Fenomena sama melanda Magelang, Sleman, Boyolali maupun Klaten.

Letusan Merapi kali ini, dicatat Badan Geologi Kementerian ESDM sebagai erupsi terdahsyat dalam seabad terakhir. Abu vulkanik gunung paling aktif di Jawa ini sampai menembus Puncak Bogor, Jawa Barat.

Awan panas atau pyroclastic density flow jadi "hantu" penebar maut siang maupun malam. Tak hanya warga lereng Merapi berjuang tetap hidup, mereka yang tinggal dalam radius kurang 20 kilomter akhirnya memilih eksodus.

Tak ada lagi keraguan, kecuali menyelamatnya nyawa satu-satunya. Harta ternak, tanaman sawah ladang maupun perabotan, tidak lagi jadi rintangan bertahan dan menyabung maut di rumah-rumah. Hingga Jumat kemarin, ratusan ribu pengungsi bergerak dari garis lebih 20 kilometer menjauhi Merapi.

Mengapa penyelamatan baru terjadi setelah korban tewas mendekati angka seratus? Patutnya, pemerintah yang punya otoritas memaksa, bertindak tegas dan cepat menyelamatkan nyawa masyarakat. Masih banyaknya korban tewas di lereng Merapi, menunjukkan betapa lemahnya kekuasaan pemerintah.

Berpijak UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pemerintah pusat memiliki otoritas mengambil langkah-langkah cepat dan strategis untuk menyelamatkan rakyat. Apalagi, Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten yang masuk rawan Merapi, tak punya Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Nasi telah jadi bubur. Kelambanan penanganan korban bencana Merapi, mengulang pelajaran getir keterlambatan penanggulangan tragedi tsunami Mentawai. Sejatinya, sikap bergeming masyarakat sekitar Merapi, bukan satu-satunya alasan "membiarkan" mereka terpanggang awan panas.

                                                                                                                               Stop Politisasi
Jika alasan warga terkait harta benda yang berpotensi sirna, seharusnya pemerintah cepat memberi garansi. Membuat kebijakan pengganti, dan Polri sebagai alat negara menjamin keamanan dari tindak pencurian.

Sayang, perintah evakuasi paksa warga datang terlambat. Kebijakan pemerintah membeli sapi dan ternak warga juga perlu waktu 10 hari. Jaminan keamanan dari aparat penegak hukum pun, kurang meyakinkan. Risiko yang harus dibayar, kematian korban Merapi kian banyak.

Maut mutlak di "tangan" Tuhan. Musibah Merapi juga kehendak-Nya. Namun, kita sebagai manusia, seharusnya mampu mengoptimalkan kecerdasan untuk berikhtiar. Pelajaran pahit, dan makin kompleks saat kinerja Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tak andal.

Akurasi analisis dan prediksi erupsi relatif kurang akurat. Korban-korban tewas sepanjang dinihari hingga Jumat siang, tak bisa dicegah. Apabila PVMBG jauh hari menetapkan kawasan rawan bencana (KRB), minimal 20 kilometer dari Merapi, kemungkinan jatuhnya korban bisa ditekan.

Aktivitas Merapi yang meningkat drastis tiga hari terakhir, gagal dianalisis secara cermat. Perluasan KRB beradius 20 kilometer, baru diputuskan setelah korban tewas massif. Masih ada kesempatan, jika PVMBG tak tahu kapan Merapi "tidur" lagi.

Evakuasi tak boleh basa-basi lagi, apalagi sekedar sensasi politik. Jangan lagi menyederhanakan masalah, bencana Merapi belum masuk kriteria bencana nasional, seperti klaim Menko Kesra Agung Laksono. Haruskah menunggu ribuan warga terpanggang? Stop kepentingan politik. Mari tulus dan ikhlas menyelamatkan saudara sebangsa dari maut Merapi.

Fasilitas dan akomodasi pengungsi, tak boleh asal ada. Selain risiko buruknya kesehatan di pengungsian, wajib dieliminir dampak psikologis dan kesinambungan pendidikan anak-anak. Saatnya unjuk pengabdian kemanusiaan. Semoga Tuhan menolong saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, Amin!

sumber :http://www.tribunpontianak.co.id/read/artikel/17373/tetapkan-bencana-nasional-merapi
Simak Selengkapnya>>

Diisukan Salah Cetak, BI Bantah Tarik Pecahan Rp. 100.000



Jakarta – vivaboreo.com – Bank Indoensia (BI) merasa perlu meluruskan soal beredarnya isu yang menyebutkan bahwa BI akan menarik uang pecahan Rp.100.000 bergambar Soekarno –Hatta yang dikatakan mengalami kesalahan cetak pada bagian naskah Proklamasi terutama pada pencantuman tahun ’05.Kepala Biro Humas BI, Difi A Djohansyah menegaskan, pencantuman teks proklamsi pada uang kertas sudah sesuai dengan naskah aslinya yaitu trtulis “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ’05”.
Isu sejarah tentang tahun pembuatan teks Proklamasi Kemerdekaan RI, yang tertulis 05 bukan 45, kembali menyeruak. Beberapa kalangan bahkan menduga Bank Indonesia (BI) salah saat mencetak uang pecahan Rp 100 ribu yang menampilkan gambar teks proklamasi.
Tahu ’05 mengacu pada fakta sejarah dimana Jepang masih berkuasa pada saat itu, sehingga penanggalan yang digunaan adalah penaggalan Jepang yaitu tahun 2605 yang disingkat ’05.
“Sebelum mencetak uang pecahan tersebut pihak BI sudah mengkonfirmasi dan berkoordinasi kepada pihak-pihak yang berwenang tentang naskah teks kenegaraan. Pun ketika BI memilih desain uang bergambar pahlawan. BI akan menampilkan pahlawan itu dalam penampilan aslinya,” ujarnya Rabu.
Dengan demikian menurut Difi, uang kertas Rp100.000 bergabar Soekarno-Hatta tidak mengalami kesalahan cetak dan tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.
“Kepada seluruh masyarakat kami menimbau untuk tidak terpengaruh dengan isu ataupun informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.(vb/yul)

sumber :http://www.vivaborneo.com/diisukan-salah-cetak-bi-bantah-tarik-pecahan-rp-100-000.htm
Simak Selengkapnya>>

Jambu Madu Bulungan Prospeknya Semanis Madu



Jambu Madu merupakan komoditi tanaman buah yang telah dirilis menjadi buah unggulan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Jambu ini memikat banyak pengunjung dalam puncak acara Hari Koperasi Nasional ke-62 di Samarinda, yang dihadiri Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
jambu madu merah
jambu madu merah
Sebagai produk unggulan, jambu madu memiliki karakteristik yang khas dibanding famili jambu lainnya , Jambu Madu memiliki rasa yang segar dan manis, dengan bobot 75—100 gr/buah. Diatas rata-rata ukuran jambu pada umumnya yang hanya antara 35-85 gr. Harga Jambu Madu di tingkat pedagang pengumpul di berbagai daerah pemasaran berkisar Rp. 12.500 hingga Rp. 15.000,0 per kilogram.
Kabupaten Bulungan dengan potensi sumber daya alam yang besar, memiliki prospek yang baik untuk pengembangan tanaman Jambu Madu, hal ini didukung oleh persyaratan tumbuh dan agroklimat yang cocok, serta ketersedian lahan yang masih luas.
Pengembangan Jambu Madu masih pada fase duplikasi dan perbanyakan untuk dikembangkan pada masyarakat. Untuk sementara jambu ini hanya terdapat pada Kebun Paulus di Desa Antutan. Dua jenis varietas yang telah ada, yakni jambu madu merah dan jambu madu hijau.
Produksi Jambu Madu berkisar antara 30 –75 kg/pohon untuk satu kali pemanenan, Jambu Madu dan dapat diambil hasilnya pada umur 3 – 5 bulan setelah tanaman berbunga.
Pangsa pasar untuk Jambu Madu masih sangat terbuka luas, menggingat untuk saat ini sentra jambu terbatas dan hanya terdapat di Kabupaten Bulungan, Daerah pemasaran dapat dilakukan secara lokal dan antar daerah, namun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan peluang ekspor ke luar negeri.
Jambu Madu tergolong tanaman dikotil, namun dalam kenyataannya tanam ini umumnya tidak memiliki biji, ada kemungkinan tanaman ini memiliki penyimpangan genetik secara alami sehingga perbanyakan tanaman biasanya dilakukan secara vegetafif baik berasal dari okulasi, sambung pucuk atau cangkokan.
Tanah dan Agroklimat Iklim yang dikehendaki oleh jambu Madu adalah iklim tipe B dan C (Fergusson) dengan rataan curah hujan 1500 mm — 2500 mm per tahu, suhu udara berada pada kisaran 25 Derajat Celcius —30 derajat Celcius. Dengan ketinggian tempat 500 m—800 dpl, dengan tanah yang gembur dan bertekstur pasir hingga lempung berliat.
Lahan seluas satu hektar membutuhkan bibit Jambu Madu berkisar 171 pohon dengan jarak tanam optimal 8 m x 8 m dan 304 dengan jarak tanam 6 m x 6 m. Waktu tanam terbaik adalah 2—4 minggu setalah pengolahan lahan.
Pemupukan dilakukan dengan pupuk organik seperti pupuk kandang, bokasi dan kompos sedangkan pemberian pupuk anorganik dengan pupuk urea, TSP, KCL dan ZK dengan dosis tepat. Pemberian pupuk lebih dianjurkan dari jenis organik, yang lebih murah dan ramah lingkungan. Pengendalian hama dan penyakit diutamakan dilakukan secara biologis dengan cara musuh alami, sedangkan untuk jenis hama tertentu misaknya lalat buah digunakan bahan kimiawi (pestisida) tertentu.(vb-01/Azan Asri)


sumber :http://www.vivaborneo.com/jambu-madu-bulungan-prospeknya-semanis-madu.htm
Simak Selengkapnya>>

Bertanam ”Raja Buah” di Kebun

Durian adalah nama tumbuhan tropik yang berasal dari Asia Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri.  Durian berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei, meskipun pohonnya dapat tumbuh di sembarang cuaca yang serupa. Pusat keragaman biologi dan ekologi durian adalah Borneo (Pulau Kalimantan).
durian dijajakan dipinggir jalan
durian dijajakan dipinggir jalan
Akan tetapi yang menjadi eksportir penting durian adalah Thailand, yang mampu mengembangkan kultivar dengan mutu tinggi. Tempat yang lain di mana durian ditanam termasuk Mindanao di Filipina, Queensland di Australia, Kamboja, Laos, Vietnam, India, dan Sri Lanka.
Tumbuhan dengan nama ini bukanlah spesies tunggal tetapi sekelompok tumbuhan dari marga (genus) Durio. Sedangkan jenis-jenis durian lain yang dapat dimakan dan kadangkala ditemukan di pasaran setempat di Asia Tenggara di antaranya D. kutejensis (lai), D. oxleyanus (kerantungan), D. graveolens (durian kura-kura atau kekura), serta D. dulcis (lahung).
Durian terutama dipelihara orang untuk buahnya, yang umumnya dimakan dalam keadaan segar. Rasanya manis hingga sedikit pahit dan sangat bergizi karena mengandung banyak karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Namun, di Jawa Barat, pohon durian dapat dijadikan jaminan saat berutang. Selama utang belum dilunasi, si pemberi pinjaman berhak atas buah yang dihasilkan.
Pada musim raya durian, buah ini dapat dihasilkan dengan berlimpah, terutama di sentra-sentra produksinya di daerah. Secara tradisional, daging buah yang berlebih-lebihan ini biasa diawetkan dengan memasaknya bersama gula menjadi dodol durian (biasa disebut lempok), atau memfermentasikannya menjadi tempoyak.  Selanjutnya, tempoyak yang rasanya masam ini biasa menjadi bahan masakan seperti sambal tempoyak yng dapat menambah selera makan.
Durian pun kerap diolah menjadi campuran bahan kue-kue tradisional, seperti gelamai atau jenang. Terkadang, durian dicampurkan dalam hidangan nasi pulut (ketan) bersama dengan santan.
durian sitokong
durian sitokong
Dalam dunia masa kini, durian (atau aromanya) biasa dicampurkan dalam gula-gula, es krim, susu, dan pelbagai jenis minuman lainnya. Bahkan kini, ada kondom dengan rasa durian!! Orang Malaysia juga percaya bahwa durian adalah obat perangsang, mempunyai ungkapan khusus, ”Jika durian jatuh, sarung akan naik”.
Bijinya biasa dimakan sebagai camilan setelah direbus atau dibakar, atau dicampurkan dalam kolak durian. Biji durian yang mentah beracun dan tak dapat dimakan karena mengandung asam lemak siklopropena (cyclopropene). Kuncup daun (pucuk), mahkota bunga, dan buah yang muda dapat dimasak sebagai sayuran.
Beberapa bagian tumbuhan terkadang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Akarnya dimanfaatkan sebagai obat demam. Daunnya, dicampur dengan jeringau (Acorus calamus), digunakan untuk menyembuhkan cantengan (infeksi pada kuku). Kulit buahnya untuk mengobati ruam pada kulit (sakit kurap) dan susah buang air besar (sembelit).
Kulit buah ini pun biasa dibakar dan abunya digunakan dalam ramuan untuk melancarkan haid dan menggugurkan kandungan. Abu dan air rendaman abu ini juga digunakan sebagai campuran pewarna tradisional. Beberapa masyarakat di Jawa menggunakan kulit durian yang telah dimakan sebagai pengusir (repellent) tikus dengan meletakkannya di sudut ruangan.
Setiap 100 g salut biji mengandung 67 g air, 28,3 g karbohidrat, 2,5 g lemak, 2,5 g protein, 1,4 g serat; serta memiliki nilai energi sebesar 520 kJ. Durian juga banyak mengandung vitamin B1, B2, dan vitamin C; serta kalium, kalsium dan fosfor.
Banyak orang menganggap buah durian sebagai buah yang enak. Masyarakat sering menyebutnya “raja buah-buahan”. Akan tetapi sebagian orang tidak tahan akan baunya yang menyengat. Karena baunya yang keras, sejumlah perusahaan melarang orang membawa durian, misalnya di kabin pesawat udara, di kendaraan angkutan umum ataupun dibawa ke hotel.
Durian dianggap sebagai makanan panas, dan sehabis makan durian biasanya tubuh kita akan berkeringat. Untuk mengatasinya, tuangkan air pada bagian kulit buah yang telah kosong, lalu diminum, sebagai penawarnya. Selain itu, musim durian biasanya terjadi bersamaan dengan manggis yang dianggap mendinginkan badan. Oleh itu kedua buah ini biasanya dimakan secara bersama-sama.
Orang yang mempunyai penyakit tekanan darah tinggi, dianjurkan agar menghindari durian karena buah ini dianggap dapat menambah tekanan pada darah. Begitupun wanita hamil dan menyusui sebaiknya menghindari makan buah durian. Air susu ibu yang ”terkontaminasi” rasa durian dapat membuat mabok sang bayi.
Budidaya dan perbanyakan;
Durian Lai, foto:Faisal.M
Durian Lai, foto:Faisal.M
Durian dikenal sebagai ”Raja” dari segala buah. Jika kita memiliki kebun dan tidak ditamai dengan pohon durian, maka kebun tersebut terasa ”hampa”, tidak memiliki aura layaknya sebuah kebun buah.
Tanaman ini memerlukan tanah yang dalam, ringan dan berdrainase baik, tidak tergenang air. Durian juga memerlukan lindungan alam, agar pohon atau cabang-cabangnya yang sarat buah tidak patah diterpa angin yang kuat.
Perbanyakan durian di desa-desa umumnya dengan menggunakan biji. Biji durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air tinggi (di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan seminggu sebelum akhirnya embrionya mati. Sehingga biji ini harus segera disemaikan setelah buahnya dibuka.
Pohon durian mulai berbuah setelah 4-5 tahun, namun dalam budidaya dapat dipercepat jika menggunakan bibit hasil perbanyakan vegetatif. Teknik-teknik yang dipakai adalah pencangkokan (jarang), penyusuan (jarang), penyambungan sanding (inarching), penyambungan celah (cleft grafting), atau okulasi (budding).
Teknik yang terakhir ini sekarang yang paling banyak dilakukan. Beberapa penangkaran sekarang juga menerapkan penyambungan mikro (micrografting) bagi durian. Tercatat bahwa durian hasil perbanyakan vegetatif mampu berbunga setelah 3-4 tahun.(vb-01/berbagai sumber)

sumber :http://www.vivaborneo.com/bertanam-%e2%80%9draja-buah%e2%80%9d-di-kebun.htm
Simak Selengkapnya>>

Buah Ihau, Klengkeng Asli Borneo.

Vivaborneo.com - Buah yang satu ini dikenal dengan beberapa nama sebutan. Ada yang menyebutnya Ihau, masyarakat Tanjungselor Kabupaen Bulungan menyebutnya Mata Kucing karena isi buah dan bijinya mirip dengan mata kucing yang bersinar, sedangkan masyarakat Dayak Kenyah di Tering Kabupaten Kutai Barat menyebutnya Duku.Buah Ihau merupakan buah asli Kalimantan Timur (dan mungkin juga ada di hutan-hutan wilayah Kalimantan lainnya termasuk di hutan Malaysa dan Brunai Darussalam). Bentuknya bundar sebesar kelereng dengan daging buah mirip klengkeng dengan rasa manis yang juga menyerupai rasa buah klengkeng. Tak heran sebagian masyarakat kota menyebutnya sebagai buah Klengkeng asli Kalimantan.
Layaknya pohon-pohon yang tumbuh dihutan Kalimantan, pohon ihau memiliki batang yang besar dan kokoh serta menjulang tinggi. Memiliki dua jenis warna, yaitu berwarna kuning kecoklatan dan ada juga yang berwarna hijau, menjadikan ihau atau si mata kucing ini sebagai santapan lezat para monyet, burung enggang dan satwa lainnya.
Pada musim buah kali ini (Desember-Pebruari) buah Ihau masih dapat ditemukan dipasar-pasar tradisional di pedalaman Mahakam. Namun kali ini buah Ihau juga dapat ditemukan di penjual buah pinggir jalan di Samarinda. Ketika ditanya asal buah, penjual menjawab asalnya bukan lagi dari pedalaman Mahakam yang memikili hutan-hutan yang lebat, namun buah ihau telah dikebunkan oleh petani di pinggiran kota Samarinda, tepatnya di Desa Lempake Kecamatan Samarinda Utara.
Jika dahulu orang menjual buah ihau dengan takaran bekas kaleng susu ukuran kecil, kini buah ihau dijual dengan takaran kilogram layaknya buah-buah lainnya. Harga satu kilo gram yang ditawarkan pedagang buah berkisar antara Rp.15.000 hingga Rp. 20.000. Harga ini cukup pantas jika bersaing dengan buah klengkeng impor apalagi mengingat sudah langkanya buah ini.(vb-01)

sumber :http://www.vivaborneo.com/buah-ihau-klengkeng-asli-borneo.htm
Simak Selengkapnya>>

Buah Keledang yang Terlupakan

Samarinda- vivaborneo.com - Buah Keledang termasuk buah langka bumi Kalimantan. Seperti buah-buah hutan lainnya, keledang merupakan buah yang mulai terlupakan seiring dengan habisnya hutan-hutan alami. Pohonnya dapat menjulang tinggi mencapai 30 meter dan berdaun lebar dan sedikit berbulu. Pohon keledang dapat berbuah sejak 5 tahun  setelah tanam. Tumbuh diberbagai jenis tanah dan umumnya dihutan tropis dan penuh dengan humus.Buah Keledang  (Artocarpus lancifolius Roxb) termasuk Famili Moraceae (suku nangka-nangkaan). Kerabat dekatnya buah Mentawa, Kluwih, Pintau, Cempedak, Sukun, Selanking, Benda, dan Nangka.
Buah Keledang rasanya manis dan daging buahnya terpisah dari bijinya seperti nangka. Sensasi rasanya merupakan campuran antara nangka dan manggis. Warna  kulit buahnya jingga kemerahan  dan bentuk buahnya seperti cempedak.  Buah  keledang termasuk salah satu buah buahan eksotis hutan Kalimantan (Borneo)  yg tumbuh merata di seluruh daratan pulau ini.
Bersyukur, ketika musim buah pada Desember ini di Kota Samarinda, masih banyak penjaja buah dipinggir jalan  yang menjualnya. Buah sebesar genggaman tangan orang dewasa dijual dengan harga Rp. 2500 per buahnya. Sungguh harga yang murah untuk buah yang sudah jarang ditemukan ini.
Pelestarian Pohon Keledang belum mendapat perhatian, begitupun dengan buah buah eksotis hutan Kalimantan lainnya. Padahal potensi tumbuhnya sangat mudah dengan perbanyakan melalui  biji yang disemai.(vb-01)

sumber :http://www.vivaborneo.com/buah-keledang-yang-terlupakan.htm
Simak Selengkapnya>>

Gurihnya Sensasi Rasa Buah Kalangkala



Vivaborneo.com -Satu lagi buah yang membuat semarak kekayaan alam bumi Kalimantan yang termasuk buah langka. Buah ini tidak cukup familiar di telinga anak muda sekarang. Apalagi mereka yang merupakan masyarakat pendatang atau anak yang lahir di perkotaan.Buah Kalangkala namanya. Sebagian ada yang menyebutnya Kangkala. Bentuknya bulat penuh jika di lihat dari atas. Dari samping buah ini terlihat oval. Bentuknya sedikit lebih besar dari buah kelereng.Tekstur kulitnya licin dengan biji berwarna colkat didalam. Jika matang warna kulitnya putih kemerah-merahan mendekati merah muda (pink). Sedang daging dalamnya berwarna hijau kekuningan mirip buah alpukat.
Kalangkala memang buah hutan yang kerap menjadi santapan burung enggang, monyet, musang dan lainnya, namun oleh masyarakat Kalimantan dijadikan sayur yang disajikan bersama nasi. Sebagai hidangan pelengkap, kalangkala tentu memiliki cita rasa tersendiri bagi penikmatnya.
Buah yang disinyalir sebagai buah asli hutan Borneo ini tumbuh liar di hutan Kalimantan. Walau tumbuh liar, kalangkala masih dapat ditemui di pasar-pasar tradisional. Namun, seperti buah-buahan pada umumnya, kalangkala berbuah secara musiman. Sehingga hanya dapat ditemui pada waktu-waktu tertentu saja.
Nah, musim buah yang berlangsung dari akhir 2009 hingga awal 2010 ini, tidak ada salahnya membeli kalangkala saat Anda kebetulan melihatnya di pasar tradisional.
Cara mengolahnya sangat mudah. Kalangkala dicuci hingga bersih. Kemudian cukup merendamnya dengan air hangat (80 derajat celcius) dan taburi sedikit garam. Rendam minimal selama satu jam sebelum dihidangkan. Warna daging yang tadinya hijau akan berubah merah muda saat matang. Dengan demikian kalangkala sudah bisa dinikmati.
Biasanya buah kalangkala dihidangkan dalam piring bersama potongan bawang pitih dan merah yang diberi sedikit garam, terasi dan air. Bila suka, terkadang ditambahkan potongan cabai dan ikan asin yang dilumatkan (penyet) dalam piring tersebut.
Cita rasanya gurih dengan sedikit rasa masam dan gurih mirip buah alpukat. Rasa asin dari garam tentu menambah semarak rasa kalangkala. Sudah barang tentu dari cita rasa inilah orang-orang terdahulu gemar mengkonsumsi kalangkala.
Hingga saat ini belum ada penelitian yang mengungkapkan kandungan gizi buah kalangkala ini, namun dari aroma dan rasanya yang mirip buah alpukat, diyakini buah ini memiliki kandungan lemak yang baik untuk tubuh dan memiliki protein yang tinggi. (upik/dari berbagai sumber.foto: hazan zainuddin)

sumber :http://www.vivaborneo.com/gurihnya-sensasi-rasa-buah-kalangkala.htm
Simak Selengkapnya>>

Rusa Jadi Maskot Kabupaten Penajam Paser Utara



SAMARINDA – vivaborneo.com- Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan (DP3K) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengimbau masyarakat untuk tidak memburu Rusa Sambar liar karena telah ditetapkan sebagai maskot Kabupaten PPU dan rusa merupakan hewan yang dilindungi undang-undang.Kepala DP3K PPU, Manahara Simanjuntak mengatakanselama ini pihaknya telah melakukan sosialisasi maupun razia di pasar-pasar tradisional yang masih menjual daging rusa secara sembunyi-sembunyi. “Harga daging rusa di pasar mencapai  Rp50.000 per kilogramnya sementara itu daging  sapi mencapai Rp.80.000 per kilonya. Sehingga dengan alasan ekonomis masyarakat lebih memilih daging rusa ketimbang daging sapi, apalagi masyarakat telah terbiasa mengkonsumsi daging rusa,” ujarnya.
Manahara menambahkan jika perburuan rusa liar ini tidak dihentikan dikhawatirkan hewan ini akan sangat sulit ditemukan, padahal Pemkab PPU telah menetapkan Rusa Sambar ini sebagai maskot daerah. “Jadi jangan sampai hewan ini hanya sebagai maskot tetapi hewannya sendiri tidak ada lagi karena telah punah,” ujarnya.
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8/1999 dinyatakan bahwa  rusa bisa diperjualbelikan asalkan sudah menjadi turunan kedua dan seterusnya yang berasal dari penangkaran. Namun jika merupakan turunan pertama yang berasal dari tangkapan di hutan atau alam liar, maka hal itu dilarang untuk diperjualbelikan. (vb/yul)

sumber :http://www.vivaborneo.com/rusa-ditetapkan-sebagai-maskot-kab-ppu.htm
Simak Selengkapnya>>

Rusa Sambar, Dari Alam ke Penangkaran



SAMARINDA – vivaborneo.com - Rusa Sambar  (Cervus unicolor brookei) yang banyak terdapat di hutan Kalimantan Timur seringkali terlupakan potensinya dikarenakan rusa masih dianggap sebagai hama tanaman oleh petani. Bahkan sekitar 5.000 ekor rusa diprediksi diburu setiap tahunnya hanya untuk memenuhi konsumsi protein daging masyarakat.Potensi peternakan rusa mempunyai masa depan yang baik karena daging rusa mmpunyai potensi besar untuk dipasarkan baik di dalam maupun luar negeri dengan spesifikasi kadar lemak rendah dan rasa yang khas. Sebagian dari organ rusa seperti tanduk, testis, dan ekor  digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional cina dan mempunyai potensi dipasarkan secara lokal dan ekspor.
Walau termasuk hewan yang dilindungi, namun rusa hasil penangkaran  dan turunannya (F2 dan F3) dapat dipelihara oleh investor yang berminat mengembangkannya. “Pengembangan ternak rusa secara komersial dapat dilakukan dengan ijin khusus. Bibit rusa hasil penangkaran atau istilahnya F2 dan F3 boleh diperdagangkan untuk dipelihara. Bahkan saat ini telah ada 30 ekor rusa yang dipelihara oleh peternak di sekitar penangkaran,” jelasnya.
Usaha-usaha perlindungan dan pemuliaan rusa telah dibentuk Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Peternakan membangun Penangkaran Rusa yang berlokasi di desa Api-api Kecamatan Waru Kabupaten Paser sejak lebih dari 10 tahun lalu. “Saat ini populasi ternak di penangkaran Desa Api-api berjumlah 220 ekor  dengan  produk utama tanduk rusa muda (velvet) yang diolah menjadi kapsul  kesehatan,” ujarnya.
Pertumbuhan tanduk hanya pada rusa jantan yang tumbuh pada umur 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan akan  bercabang pada pertumbuhan tanduk berikutnya. Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah itu akan tumbuh kembali.
Rusa Sambar termasuk golongan hewan pemakan tumbuhan  (rumanansia) yang mempunyai  tingkah laku berbeda dengan hewan lainnya, yaitu mempunyai ketajaman pendengaran, penciuman, kecepatan melompat,  dan berlari dengan cepat dan tidak memiliki kantung empedu.
Pada umur dewasa berbadan besar, hidung gelap dan suara melengking. Umumnya berwarna hitam kecoklatan dan cenderung coklat keabu-abuan atau kemerahan. Bobot Rusa Sambar betina dewasa berumur 10-12 bulan dapat berbobot 40-50 kg dan rusa jantan 50-60 kg. Perkawinan alami secara umum berkisar antara bulan Juli sampai September masa bunting 235 hari atau 7-8 bulan.
“Saat ini harga yang dipatok untuk satu ekor bibit rusa umur 1,5 tahun dijual dengan harga 6-7 juta. Selain itu, di penangkaran ini juga telah dikembangkan sperma beku untuk kambing, sapid an rusa. Sehingga produktivitas ternak dapat ditingkatkan tidak hanya menunggu perkawinan alami,” ujarnya.(vb-01)

sumber :http://www.vivaborneo.com/rusa-sambar-dari-alam-ke-penangkaran.htm
Simak Selengkapnya>>

Potensi Kerbau Kaltim Masih Terbuka Lebar




SAMARINDA – vivaborneo.com - Kalimantan Timur memiliki potensi ternak kerbau yang sangat besar jika dikembangkan secara modern, seperti yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dengan kerbau rawanya dan Kabupaten Nunukan yang memiliki kerbau pegunungan karena berada di dataran tinggidan berbatasan langsung dengan Negara Malaysia Timur. Potensi kerbau tersebut sudah dilirik  investor dari Italia dengan syarat tersedianya lahan 500 hektar, namun hingga kini belum ada realisasinya.Saat ini, Kaltim memiliki potensi peternakan kerbau cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Kecamatan Muara Wis dan Muara Muntai, di Kukar  populasi kerbau mencapai 500 ekor dan dikelola langsung oleh masyarakat. Kerbau disini dikenal dengan nama kerbau rawa atau masyarakat biasanya menyebut dengan”kerbau kalang” karena system kandangnya yang menggunakan sebagai kayu penghalang atau pembatas.
Sementara itu, di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan populasi kerbaunya mencapai 5.000 ekor, padahal menuut hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduknya hanya 9.500 jiwa lebih  saja. Dapat dibayangkan, begitu banyaknya populasi kerbau yang juga dipelihara masyarakat dengan hanya dilepas di padang rumput, tanpa pengelolaan memadai.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim, H Ir. Ibrahim, MAP  mengatakan ternak kerbau Kaltim memang banyak dilirik investor dari dalam dan luar negeri, namun potensi ini belum dapat digarap maksimal, karena Kaltim masih focus pada pengembangan ternak sapi dan kambing.
“Memang banyak yang berminat tetapi belum ada  yang pasti. Terakhir dari Italia yang meminta lahan 500 hektare dan Kaltim dapat menyediakannya. Sementara untuk bibit atau anak kerbau akan mereka datangkan sendiri,” ujarnya.
Kendala yang ditemui saat ini, ujar Ibrahim, karena para investor menginginkan kerbau yang diambil susunya, sedangkan kerbau di  Kaltim yakni kerbau kalang di Kukar dan kerbau Krayan adalah kerbau pedaging, bukan penghasil susu.
Memang, masyarakat Indonesia, apalagi di Kaltim tidak terbiasa menggunakan susu kerbau untuk dikonsumsi, karena susu kerbau tidak tahan lama dan mudah asam.  Padahal dengan tehnologi pengepakan dan pasteurisasi yang benar, susu  kerbau dapat dimanfaatkan sejajar layaknya susu sapi atau kambing.
Pola pikir lainnya yang perlu diubah di masyarakat adalah anggapan susu kerbau memiliki kandungan lemak yang tinggi sehingga tidak baik untuk kesehatan. Anggapan ini mungkin benar karena kandungan susu kerbau sedikit lebih tinggi daripada susu sapi. Tetapi jangan lupa dengan tingginya lemak tersebut, susu kerbau sangat bagus dijadikan campuran dalam pengolahan pizza dan produk lainnya seperti olahan keju mozarella dari Italia yang sangat terkenal tersebut.
“Besarnya potensi yang dimiliki Kaltim untuk mengembangkan kerbau ini sangat terbuka lebar. Apalagi kerbau merupakan ternak asli yang telah lama dikembangkan penduduk secara turun temurun. Begitu juga dengan masalah lahan dan pakan hijaunya, di Kaltim pasti dapat memenuhinya. Dalam hal pola makan, kerbau rawa lebih fleksibel dari sapi. Rumput jenis apapun bisa mereka konsumsi. Bahkan, rumput dengan kualitas terjelek sekalipun sanggup mereka makan. Karena itu, dari segi pemeliharaan, kerbau  lebih mudah penanganannya dari pada sapi,” jelas Ibrahim.
Nah, bagi anda yang berminat untuk mengembangkan kerbau ini, peluangnya masih terbuka lebar bahkan pasar dagingnya terus meningkat konsumsinya. Bahkan kerbau Krayan selalu menjadi komoditi unggulan yang selalu diminta oleh Malaysia. (vb/yul)

sumber :http://www.vivaborneo.com/potensi-kerbau-kaltim-masih-terbuka-lebar.htm
Simak Selengkapnya>>

Kampung Pinang Sentra Langsat Air Putih



Siapa bilang “Langsat Air Putih’ punah dan tidak bisa lagi didapat. Jenis langsat ini ternyata masih menjadi buah andalan kota Samarinda. Salah satu keberadaannya terletak di kebun milik Fauzi Rahman, warga Kelurahan Bukit Pinang, Samarinda Ulu.Fauzi menjelaskan, kebunnya saat ini berada di Kampung Pinang RT.17, dengan besar lahan sekitar 3 hektar. Ia pun mengaku semua lahannya tersebut ditanami semua dengan berbagai jenis buah-buahan termasuk Langsat Air Putih.
“Keberadaan langsat air putih memang sudah ada sejak tahun 1980, hingga saat ini langsat air putih yang ada dikebun sekitar 30 pohon,” ungkapnya.
Fauzi Rahman yang juga ketua RT.03 ini mengakui langsat air putih berbeda dengan langsat lainnya, pasalnya selain rasanya sangat manis, buahnya kenyal karena  tidak keras dan tidak bergetah, jadi sangat berair nutrisi.
“Langsat air putih tidak diragukan lagi kenikmatannya,”katanya.
Fauzi rahman mengakui saat panen penjualan buah langsat air putih cukup menjanjikan, karena sejak 1980 hingga 1990 sudah dikenal di beberapa daerah tetangga seperti Bontang, Tenggarong, dan Balikpapan.
“Selain buah langsat air putih, dikebun saya juga banyak ditanami buah-buahan lain seperti rambutan, manggis, elai, dan yang paling terkenal adalah durian,” ungkapnya.
Melihat potensi tersebut, Sekretaris Lurah Bukit Pinang, Sukarmin mengakui kawasan Kampung Pinang adalah sentra perkebunan buah-buah-buahan termasuk pepohonan Langsat Air Putih. Karena, selain di Kampung Pinang RT.17 masih banyak lagi warga yang memiliki perkebunanan yang melestarikan Langsat Air Putih, seperti RT.01, RT04, RT.11, RT.14, RT.15 dan kawasan lainnnya.
“Kawasan Bukit Pinang memang sebagai sentra buah-buahan terbesar di kota Samarinda, karena warga disini sangat minat membudiyakan perkebunan khususnya langsat air putih,”ungkapnya.
Sukarmin juga mengakui akan kenikmatan buah langsat air putih tersebut, pasalnya ia mengakui secara pribadi membuktikan pada saat membawa buah kenyal itu ke sanak keluarga dan masyarakat di Kota Malang.
“Orang sana sudah mengakui, dan memang sangat berbeda karena kelebihan kenikmatannya tiada duanya bila dibanding dengan langsat lain,” ungkapnya.
Sukarmin berharap para warga pemilik kebun yang saat ini masih melestarikan langsat air putih di kampung pinang agar bisa terus menerus dirawat dan dijaga kelestarian buah langka tersebut.
“Saya berharap kepada pemilik untuk tidak menjual kebunnya atau tanahnya kepada orang lain untuk kepentingan yang merugikan, seperti batu bara. karena saya ingin perkebunan ini, khususnya Langsat Air Putih ini jangan sampai hilang,”katanya. (vb/rah)

sumber :http://www.vivaborneo.com/kampung-pinang-sentra-langsat-air-putih.htm
Simak Selengkapnya>>

Mitos Jati Kaltim


Pernah mendengar mitos jati dan kayu ulin di Kaltim? Suatu saat, tamu bangsawan kerajaan Majapahit mengunjungi Kerajaan di Kutai. Sang tamu membawa bibit pohon jati. Namun sebelumnya bibit ini dipelintir-pelintir. Sang tuan rumah yang mengetahui tamunya berbuat kurang sopan mempersembahkan biji ulin yang telah direbus sebelumnya.
Arsyad dan jati
Arsyad dan jati
Mitos ini kemudian berkembang, mengapa pohon jati yang tumbuh di Kalimantan tidak bisa lurus seperti jati di Pulau Jawa. Sementara  bibit ulin yang dibawa bangsawan Jawa bahkan tidak tumbuh. Bagaimana akan tumbuh, sebelum diserahkan terlebih dulu direbus.
Nah mitos tentang jati di Kalimantan Timur, agaknya, akan patah. Adalah Muhammad Arsyad, HB yang mengaku menemukan ‘situs’ jati yang pernah tumbuh di Kalimantan Timur. Penemuan tak sengaja itu terjadi tahun 2006 saat dia mencari tonggak-tonggak ulin sebagai bahan baku kursi ukir akar di galerinya.
Saat itu, katanya, dia tengah mencari bahan-bahan untuk galerinya di kawasan pemukiman transmigrasi L1 Teluk Dalam Kutai Kartanegara. “Saya melihat akar pohon sedang didorong oleh buldozer perusahaan tambang. Saya terkejut, ternyata akar pohon jati yang masih dalam keadaan baik. Padahal menurut perkiraan saya yang orang awam, tonggak jati itu telah tertimbun tanah ratusan tahun.
Saat ini Arsyad makin rajin berburu tonggak kayu jati di berbagai kawasan tambang yang ada di Kalimantan Timur. “Sampai saat ini saya belum bisa memercayai, jika ternyata di daerah ini dulunya  pernah tumbuh jati,” katanya. Pasalnya menurut temuannya akar tunjang jati yang sering ditemukan bergaris tengah hingga satu meter lebih. ”Coba bayangkan berapa sebenarnya besar kayu jatinya,” tambah Arsyad.
Saat ini, salah satu penemuannya dijadikan satu set kursi ukir akar yang artistik di arena pameran Bank Kaltim Indonesia Open  Stadion Palaran, kalimantan Timur. Di galerinya di Jalan Pangeran Suryanata Raya, Bukit Pinang dia memproduksi sejumlah ukiran.”Tukang ukir saya saya didik sendiri dari pemuda lokal,” katanya, seraya menambahkan dia menerima berbagai pesanan ukiran.
Galerinya juga menerima pesanan miniatur Patung Lemuswana.” Kami juga membuat kepala Kijang dari kayu jati. Jadi kalau ada yang punya tanduknya, kami membuat kepalanya dari kayu,” ujarnya.  (vb/ad)

sumber :http://www.vivaborneo.com/mitos-jati-kaltim.htm
Simak Selengkapnya>>

Taman Nasional Kayan Mentarang



Taman Nasional Kayan Mentarang adalah daerah terluas di Kalimantan yang paling dilindungi oleh negara, termasuk melindungi segala jenis habitat yang ada di Kayan Mentarang. Area Taman Nasional Kayan Mentarang meliputi 1,6 juta hektar dan lokasinya jauh di pedalaman provinsi Kalimantan Timur.
Penelitian mencatat sejumlah besar flora dan fauna termasuk beberapa jenis spesies baru. Penemuan ini menegaskan bahwa Taman Nasional Kayan Mentarang adalah salah satu daerah penting yang yang harus dilindungi oleh negara bahkan mungkin dunia.
Ketika Penebangan liar sering terjadi di banyak hutan lindung, Taman Nasional Kayan Mentarang dapat selamat dari ulah para penebang liar dan habitat yang ada di dalamnyapun tetap terjaga.
Sejak dahulu kala, Taman Nasional Kayan Mentarang dapat tetap terjaga karena adanya perjuangan gigih suku asli Dayak sekitar yang selama bertahun-tahun menjaga taman nasional tersebut.
Taman nasional ini merupakan hutan hujan terbesar yang tersisa di Kalimantan dan merupakan tempat berlindung bagi beberapa jenis hewan, termasuk beberapa jenis hewan yang sering ditemukan di wilayah pegunungan Kalimantan. Setengah dari binatang-binatang tersebut berada di dataran rendah dan lembah di ketinggian 2000 meter. Kayan Mentarang dihuni oleh beberapa ribu suku Dayak dan Punan yang hidup dari berladang dan menanam padi. Mereka menjalani kehidupan yang liar di alam bebas.
World Wide Fund (WWF) telah mengembangkan proyek eco-tourist melalui kerjasama dengan masyarakat setempat. Ada sekitar lima kantor yang tersebar di sekitar wilayah Kayan Mentarang yang dapat membantu para wisatawan dalam mendapatkan informasi. WWF juga memiliki tempat penelitian di bagian utara Long Pujungan yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan dan mungkin menjadi tempat yang paling bagus untuk melihat secara langsung kehidupan liar suku Dayak.
Manajemen dari Taman Nasional Kayan Mentarang telah dipercayakan kepada kepala suku di Kayan mentarang yang kemudian memutuskan untuk membuat Dewan (DPK-TNKM) yang terdiri dari Forum Musyawarah Masyarakat Asli (FoMMA), pemerintah dan lingkungan setempat. Hal ini menjadikan Taman Nasional Kayan mentarang sebagai satu-satunya taman nasional yang dikelola oleh penduduk lokal.
Status Cagar Alam diberikan kepada Taman Nasional Kayan Mentarang pada tahun 1978. Menurut hukum, status tersebut berarti pengelolaan taman hanya ditangan aparatur negara dan tidak ada seorangpun diijinkan untuk mengelolanya.
Tak lama kemudian, saat WWF mengadakan proyek pemetaan hutan, pemerintah menemukan bahwa sekitar 7000 orang yang tinggal di daerah tersebut menolak status Cagar Alam. Bagi mereka, status tersebut dapat diartikan sebagai kalimat kematian.“Bagi kami, hutan bukan hanya sekumpulan pohon-pohon. Hutan adalah tempat tinggal kami. Kami hidup dan mati di hutan,” kata Lakai Tabari, Kepala suku Krayan Hilir.
Selain suku Krayan Hilir , sembilan suku terbesar lainnya yang tinggal di sekitar taman nasional adalah Krayan Darat, Krayan Tengah, Krayan Hulu, Lumbis, Mentarang, Tubu, Hulu Bahau, Pujungan dan Apokayan, yang kemudian disetujui bersama masyarakat dari Kayan Hilir dan Kayan Hulu yang tinggal disekitar sungai Kayan.
Sekelompok masyarakat ini kemudian membentuk FoMMA dan meminta WWF untuk mendukung tuntutan mereka untuk dapat mengelola sendiri Kayan Mentarang.Pada tahun 1996, dikeluarkan surat keputusan yang mengubah status Cagar Alam menjadi taman nasional dan WWF diminta untuk dapat menetapkan rencana pengelolaan dan dalam prosesnya dapat mengikut sertakan masyarakat setempat.
Tetapi setelah hal tersebut, FoMMA menyadari bahwa perubahan status tidak menjamin Wilayah Adat mereka tidak akan dirampok oleh para pengusaha bahkan pemerintah yang telah mengubah beberapa taman nasional menjadi daerah industri.
Akhirnya, Menteri Kehutanan saat itu, Mohamad Prakosa mengeluarkan keputusan untuk menyetujui kerjasama dalam pengelolaan hutan seperti yang telah dibuat dalam rencana pengelolaannya.
Dua keputusan lain dikeluarkan pada hari yang sama, yang memberikan hak pada pengelola taman untuk membuat proyek eco-tourist dan mendirikan DPK-TNKM. Dewan tersebut dipimpin oleh pemerintah Malinau karena sekitar 75 persen daerah Kayan Mentarang berada di Malinau. Daerah sisanya dimiliki oleh pemerintah Nunukan. Pemerintah Nunukan ditunjuk sebagai wakil dewan dan pimpinan FoMMA sebagai wakil kedua.
Dewan telah menyetujui untuk membentuk unit pengelolaan yang akan melaksanakan semua rencana yang telah dibuat.
Tetapi komitmen yang ditunjukkan oleh semua pihak tidaklah cukup. Pemerintah Malinau harus membuktikan rencana untuk membangun jalan tembus ke taman nasional yang dapat berhubungan dengan Tanjung Nenga dan Long Pesiak. Padahal kontruksi dari jalan telah siap, yang akan berakhir di daerah sekitar taman nasional. Tetapi penebangan liar masih terus dilakukan dan adanya perselisihan antara para tetua dengan para pemuda tentang bagaimana memanfaatkan hutan.
Taman Nasional Kayan Mentarang juga dikelilingi oleh daerah Industri antara Indonesia dan Malaysia. Satelit yang diletakkan di kantor WWF Tarakan menunjukkan kegiatan penebangan liar telah menggunduli hutan yang berawal dari Serawak dan akan terus menuju ke Taman Nasional Kayan Mentarang.
Akses
Taman Nasional Kayan Mentarang letaknya sangat terpencil dan hanya dapat dicapai dengan menggunakan pesawat melalui rute samarinda-Long Ampung dan Tarakan-Long Bawan. Bisa juga dengan menggunakan kapal melalui rute Tarakan-Tanjung Selor-Long Pujungan. Untuk Mencapai daerah utara Kayan Mentarang dapat juga dengan menggunakan pesawat dari Samarinda ke Long Ampung. Dari Long Ampung dapat menyewa kapal ke Data Dian (sekitar lima jam perjalanan). Kayan Mentarang tidak memiliki fasilitas penginapan, tetapi para wisatawan dapat tinggal di rumah-rumah suku dayak yang ada di sekitar Kayan Mentarang. (***)

sumber :http://www.vivaborneo.com/taman-nasional-kayan-mentarang.htm
Simak Selengkapnya>>

Kersik Luway Miliki Anggrek Kelas Dunia



Cagar Alam Kersik Luway di Kampung Sekolaq Darat, Kecamatan Melak terkenal dengan tanaman beberapa jenis anggrek terutama jenis Anggrek Hitam atau Coelogyne Pandurata Lindl dan sudah terkenal baik nasional maupun dunia internasional.
Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini rata-rata 25 orang setiap harinya. Bahkan, pada hari libur bisa mencapai lebih dari seratus orang.
Taman Anggrek Kersik Luway mempunyai luas sekitar 5 ribu hektare (ha). Bagi pengunjung yang baru ke daerah ini, biasanya memerlukan jasa pemandu agar tidak tersesat.
Anggrek Hitam yang merupakan primadona di kawasan ini sudah sangat terkenal sejak zaman dulu. Bahkan banyak dicari dan diburu oleh para kolektor anggrek. Hal ini diakui Sulistiyono SSi, dari Sulistiyono Orchids Nursery Yogyakarta, selain pengusaha prefesional budidaya anggrek.
Di Kalimantan sendiri, banyak ditemui jenis anggrek asli atau endemik. Jenisnya antara lain Phalaenopsis Gigantea dan Paraphalaenopsis Serpentinlingua yang ditemukan oleh JJ Smith, Paphiopedilum Kolopakingi yang ditemukan oleh Fowlie, Bulbophyllum dan lain-lainnya lagi. Untuk keluarga anggrek atau Familia Orchidaceae merupakan kelompok tumbuhan berbunga yang jumlah jenisnya terbesar kedua di dunia setelah Familia Asteraceae.
“Secara global sama seperti Bali lebih dikenal ketimbang Indonesia. Demikian juga halnya dengan Familia Orchidaceae di pedalaman Kalimantan Timur popularitas hutan anggrek yang sudah go international tersebut membuat dunia lebih akrab dengan sebutan Kersik Luway ketimbang Kutai Barat,” kata Sulistiyono
Menurut Sulistiyono, di dunia saja sudah diperkirakan sekitar 20 ribu jenis anggrek yang penyebarannya terutama berada pada daerah yang kaya akan potensi hutan tropisnya. Dan Indonesia sendiri sebagai salah satu negara tropis memiliki keaneka-ragaman hayati kedua terbesar di dunia. Diperkirakan, hingga saat ini Indonesia memiliki kekayaan anggrek sekitar 5 ribu jenis. Ini berarti kekayaan anggrek dunia satu per empatnya berada di wilayah Indonesia. “Pada khususnya Papua sebagai pulau dengan koleksi hayati terbanyak dan yang kedua adalah Kalimantan,” katanya.
Di Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan jenis anggrek, memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan anggrek. Khususnya Kubar seperti kawasan anggrek di Kersik Luway, Kersik Lepoq, Kersik Serai, Kersik Selewang dan Kersik Kerbangan di atas areal hutan seluas 5 ribu hektare akan menjadi hal yang sangat potensial dalam pengembangan ekowisata anggrek.(***)

sumber :http://www.vivaborneo.com/kersik-luway-miliki-anggrek-kelas-dunia.htm
Simak Selengkapnya>>

Tempat-tempat Wisata di Kaltim




Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Timur Drs. Firminus Kunum, M.si mengatakan kekuatan wisata berupa wisata alam (ecotourism) yang dibaur dengan budaya pedalaman, pantai dan keraton serta wisata sejarah, dan fasilitas penunjang kepariwisataan yang dimiliki daerah ini diharapkan dapat memberikan sentuhan daya pikat kunjungan wisatawan dan rangsangan minat investor untuk menanamkan investasi di bidang pariwisata di daerah ini. Berikut Obyek Wisata di Kabupaten Kutai Barat.
Danau Jempang dan danau-danau lainnya.
Danau Jempang terletak di Kecamatan Jempang dengan luas kurang lebih 15.000 Hektar (ha). Danau Semayang terletak di Kecamatan Semayang seluas kurang lebih 11.000 ha. Danau yang ada di Kojo (100 ha), Danau Berambai (30 ha), Danau Malinau (25 ha), dan danau Loa Maong (100 ha). Semua danau-danau ini merupakan penghasil ikan air tawar yang memasok sebagian besar ikan air tawar di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kersik Luway
Letaknya di Kecamatan Melak, keruang lebih 15 Km dari Desa Melak. Luas area taman ini 5000 ha. Tiga jenis anggrek yang terdapat di tempat ini antara lain; Anggrek Hitam (coelogynepandurata), Erya Vania, Erya Florida, Coelogyne Rocus Soini dan Bulpophylum Mututina, serta beberapa jenis kantung semar.
Fasilitas di lokasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan bagi wisatawan tersedia di Melak. Untuk berkunjung ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari samarinda-Melak, dilanjutkan dengan kendaraan roda empat atau roda dua.
Mencimai, Benung, Engkni, Eheng dan Air Terjun Jantur Gemuruh
Adalah desa-desa yang didiami oleh suku Dayak Tunjung, terdapat lamin yang jaraknya 7 Km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni suku Dayak Benuaq. Di desa Mencimai terdapat museum “Mencimai” yang berisikan data dan informasi kehidupan suku Dayak Benuaq dalam berladang, berburu,  dan kehidupan kemasyarakatan lainnya, lengkap dengan foto dan penjelasannya. Museum ini dibangun atas bantuan biaya seorang wisatawan Jepang. Lamin yang dihuni oleh masyarakat di desa-desa ini adalah; Lamin Mencimai, Lamin Benuang, Lamin Engkuni dan Lamin Eheng.
Air Terjun Jantur Gemuruh
Obyek wisata air terjun Jantur Gemuruh terletak di desa Mapan. Keistimewaan Air Terjun Jantur Gemuruh ini terdapat candi peninggalan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorog yang dibuat di bawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 meter. Lokasi ini cocok untuk dijadikan lokasi penelitian  pihak kepurbakalaan.
Desa Tering
Terletak di tepi sungai Mahakam Kecamatan Long Iram. Di desa Tering bermukim masyarakat suku Bahau yang ramah menerima tamu dengan kesenian Hudoq. Fasilitas yang tersedia; Lamin adapt, Warung Art Shop. Upacara yang terkenal adalah Lamelah Tenan, Laliq Iqbal, dan Hudoq Apah.
Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-datah BIlang selama 2 hari.
Rukun Damai Long Bagun Ilir.
Rukun Damai terletak ditepi Sungai Mahakam Kecamatan Long Bagun. Desa ini didiami oleh suku Dayak lainnya Lepo Tau yang berasal dari Apo Kayan. Kehidupan mereka sangat rukun dan mempunyai lamin panjang. Seni budayanya asli dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suku-suku Dayak Kenyah lainnya. Desa Long Bagun Ilir dihuni oleh suku Dayak Bahau sehingga budaya mereka berbeda dengan suku lainnya. Sebagian masyarakatnya tinggal di Lamin. Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Long Bagun Ilir selama 2 hari.
Long Pahangai dan Long Tuyuk
Terletak di tepi Sungai Mahakam dan melalui jeram-jram yang arusnya deras. Suku Dayak yang berdomisili di Long Pahangai yaitu Umaq Suling, Huang Long Gelaat, Umaq Murut, Huang Kayan dan Umaq Pala.
Desa Long Tuyuk yang didomonasi Suku Dayak Bahau terkenal dengan budaya. Di desa ini terdapat lamin adapt Mesaat. Pada saat kita menelusuri daerah ini banyak terdapat jeram, diantaranya jeram Udang Napo Hulu dan Neohida.
Seni budaya masyarakat setempat yaitu upacara adapt Dangai, upacara adapt menyambut tamu dan lain-lain. Di daerah ini menggunakan pesawat dari Samarinda-data Dawai atau menggunakan long boat yang dicarter.(vb-01)

Simak Selengkapnya>>

Obyek Wisata Kota Bontang




Kota Bontang terkenal dengan PT. LNG Badak dan PT. Pupuk Kaltim yang cukup besar menghasilkan devisa bagi negara Kesatuan RI. Justru itu proyek vital ini sangat strategis sekali, selain penyerap tenaga kerja yang sangat  besar yang membuat kota Bontang menjadi terkenal di dunia.
Obyek Wisata Kota Bontang diantaranya;
Pulau Beras Basah
Obyek wisata Pulau Beras Basah berdekatan dengan lokasi pabrik LNG. Badak, sehingga obyek ini masih digunakan secara terbatas khususnya bagi karyawan LNG Badak karena menyangkut masalah keamanan sekitar lokasi pabrik.
Obyek Perumahan di Atas Air Laut Bontang Kuala
Lokasi perumahan di atas air laut ini banyak terdapat  warung makanan khas ikan bakar. Bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama laut dan menikmati makanan ikan bakar dapat di lokasi Bontang Kuala tersebut.
Padang Golf Hotel Bintang Sintuk
Bagi wisatawan yang ingin bermain golf dapat menghubungi pihak Hotel Bintang sintuk sambil bermalam dengan menikmati olah raga golf yang lokasinya sangat indah sekali.(vb-01/foto;ambarbriastuti)

Simak Selengkapnya>>

Asal Usul Kota Balikpapan


Ada beberapa hikayat popular yang menceritakan asal usul kota yang berada di pesisir timur Kalimntan ini. Balikpapan merupakan kota minyak pertama di Kaltim yang dieksplorasi oleh Belanda. Pertempuran antara tentara Indonesia dan Belanda juga sempat memberi warna pada kota yang berkembang pesat ini.
Beruang Madu (Helarctos malayanus)
Beruang Madu (Helarctos malayanus)
Ada yang menceritakan bahwa ada sepuluh keping papan kayu yang kembali ke Jenebora dari 1.000 keping yang diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan bangunan untuk pembangunan istana baru di Kecamatan Kutai Lama. Ke sepuluh papan yang balik itu disebut orang Kutai dengan istilah Balikpapan Tu. Sehingga wolayah sepanjang Teluk Balikpapan tersebut, tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan.
Versi kedua bercerita dari Suku Balik (suku asli Balikpapan) adalah keturunan kakek dan nenek bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan atau Balikpapan (dalam bahasa Pasir, Kuleng berarti Balik)
Kini Kota Balikapan merayakan hari jadi kota Balikpapan sejak tanggal 10 Pebruari 1897. Penetapan tanggal ini berasal dari sejarah kota Balikpapan yang melakukan pengeboran minyak pertamanya oleh perusahaan Belanda bernama Mathilda sebagai realisasi dari pasal-pasal kerjasama antara JH Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.
Maskot Kota Balikpapan adalah Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang merupakan beruang yang paling kecil di dunia. Tinggi beruang madu hanya 1,2-1,5 meter dan beratnya kira-kira 65 Kg saja.
Beruang madu adalah panggilan di Malaysia dan Indonesia, sedangkan nama Inggrisnya adalah The Sun Bear. Ciri khas beruang ini memiliki ”kalung emas” dilehernya dan memilih makanan tanaman atau tumbuhan (herbivora)
Beruang madu sering dicari oleh pemburu satwa untuk diambil dagingnya untuk kepentingan medis tradisional. Ini menjadi ancaman bagi kelangsungan beruang madu.
Pemerintah kota Balikpapan terus berupaya melestarikan habitat beruang madu ini dengan menyediakan tempat khusus di Sungai Wain sebagai habitat alamnya.(vb-01/foto:faizzaki)

sumber :http://www.vivaborneo.com/asal-usul-kota-balikpapan.htm
Simak Selengkapnya>>

Derawan Masuk Obyek Wisata Selam Nomor Empat Indonesia



SAMARINDA – vivaborneo.com – Pulau Derawan di Kabupaten Berau masuk dalam urutan empat wisata bawah air atau wisata selam di Indonesia mengalahkan Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Demikian dikatakan Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak kepada setiap tamu dari luar Kaltim yang berkunjung ke Kantor Gubenur.Menurut Awang Faroek, Pulau Derawan menempati urutan ke empat setelah Taman laut Raja Ampat di Papua, Taman laut Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Taman Laut Bali Barat di Provinsi Bali, Pulau Derawan dan Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Selain Pulau Derawan, Awang Faroek juga mempromosikan gugusan kepulauan lainnya di Kabupaten Berau diantaranya Pulau Kakaban dan Maratua.
“Keindahan laut di Pulau Derawan mulai terkenal di Indonesia dan dunia. Banyak tamu asing yang telah berkunjung dan memuji keindahan bawah laut Pulau Derawan seperti mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia dan kunjungan tamu kerajaan Belgia, Pangeran Hendry,” ujarnya.
Gubernur mengusulkan agar setiap kegiatan tidak harus dilaksanakan di Samarinda saja, tetapi perlu dicoba untuk melaksanakan kegiatan di Pulau Derawan. “Cobalah untuk mengadakan seminar atau rapat di Pulau Derawan, karena sarana dan prasarana untuk menuju lokasi telah tersedia. Sekarang Berau sudah dapat didarati pesawat Boeng berbadan lebar yang berangkat langsung dari segala tujuan. Selain menyelam, jika ke Pulau Derawan, Kita dapat berenang dengan penyu-penyu yang muncul ke permukaan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kaltim, Firminus Kunum mengatakan, untuk lebih mempromosikan Pulau Derwan di mata Internasional, maka pada bulan Juni mendatang akan mengadakan Festival Internasional Pulau Derawan yang meliputi lomba menyelam, foto bawah air dan berbagai lomba lainnya. (vb/yul)

Simak Selengkapnya>>

Menata Karst Mangkalihat Sebagai Potensi Geowisata



SAMARNDA – vivaborneo.com – Bila bicara Kalimantan Timur, orang-orang luar biasanya silau dengan melimpahnya kekayaan alam terdapat di dalamnya. Tak heran, karena Kalimantan Timur memang termasuk salah satu provinsi penyumbang devisa terbesar negara. Minyak bumi, hutan tropis dan tentu saja batu bara. Pertanyaannya, seberapa lamakah sumber daya alam tersebut mengangkat prestise Kaltim di mata Nasional maupun Internasional?
Sektor pertambangan yang selama ini menjadi andalan kini sudah mulai dicarikan penggantinya. Sebab tak dapat dipungkiri, sumber daya hasil pertambangan tak dapat lagi diperbaharui. Namun tak perlu khawatir. Sektor Pariwisata dapat menjadi alternatif penghasil devisa negara pun sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) demi kesejahteraan rakyat sekitar. Di bumi Kaltim, Karst Mangkalihat memiliki potensi besar untuk itu.
Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Institut Teknik Bandung Dr. Budi Brahmantyo pada Lokakarya Perencanaan Aksi Pengelolaan Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Hotel Grand Sawit, Senin (9/8) mengungkapkan, hasil penelitian suatu lembaga penelitian di Amerika menyebutkan bahwa adanya peningkatan wisata petualangan terutama di Amerika Utara. Sasaran wisata ini adalah Asia dan Afrika. Hal ini menjadi potensi yang mesti ditangkap. “Karst Mangkalihat-Sangkulirang menjadi salah satu potensi yang perlu diperhatikan dan dikembangkan,” ungkap Budi.
Karst seperti yang dilansir Wikipedia, adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.
Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batu pasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli.
Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).
Karst Mangkalihat masih asri tanpa terjamah kerusakan. Sehingga sangat memungkinkan untuk menjadi salah satu Geowisata andalan Nasional atau bahkan Internasional. Geografisnya tampak bagaikan pegunungan batu gamping yang diselimuti hutan belantara nan hijau.  Menusuk  ke  dalam   hingga jantung Gunung Marang, daerah yang terletak di barat laut Sangata itu nyatanya sarat menyimpan jejak-jejak masa lalu manusia dengan adanya lukisan berbentuk tangan yang memiliki nilai artistik. Belum diketahui berapa kali peneliti lokal maupun mancanegara yang bertandang ke bumi kalimantan untuk melihat secara langsung apa-apa yang terdapat di Karst Mangkalihat.
Di sini, sekitar 3.500 tahun lampau sebuah komunitas prasejarah telah tercipta kuat, berkiprah menaklukkan alam dengan berdiam di goa-goa kapur. Hidup mereka kembali bergema melalui penemuan sisa manusia, peralatan hidup, dan berbagai lukisan goa yang canggih. Hampir pasti, merekalah cikal bakal dari sebagian populasi Nusantara saat ini.
Data hunian goa banyak dihasilkan dari kawasan karst Beriun di Pegunungan Marang, bagian dari sistem karst raksasa Sangkulirang-Mangkalihat. Lebih dari seratus goa dengan 1.500 lukisan cadas (di dinding goa)—mayoritas berupa cap-cap tangan—telah ditemukan oleh Jean-Michel Chazine dan Luc Henri Fage sejak tahun 1994.
Lukisan cadas itu umumnya ditemukan pada dinding-dinding goa yang tinggi, yang sulit dicapai karena terletak di lokasi-lokasi terjal 100-200 meter di atas permukaan tanah. Salah satu goa, yaitu Goa Tewet, terdapat lebih 200 cap tangan beserta gambar hewan dan manusia. Separuhnya dihiasi titik, garis, atau pola lainnya, menunjukkan lebih dari 50 kombinasi. Gambar-gambar tersebut mungkin terkait upacara ritual tertentu yang hanya bisa diikuti oleh segelintir manusia.
Di Gunung Marang bagian barat, Goa Berak telah mengontribusi sekitar 35 cap tangan dan beberapa lukisan lainnya. Sementara di Goa Payau terdapat 38 cetakan tangan dan gambar-gambar geometris bermotif garis, koma, titik, lingkaran, anak panah, dan bentuk-bentuk anthromorfik.
Temuan senada juga dihasilkan dari Gunung Marang bagian timur. Di Goa Jupri terdapat panel lukisan sepanjang tiga meter, terdiri atas gambar 16 rusa, babi (1), kura-kura (2), makhluk anthropomorfik (16), dan cap tangan (5). Pada puncak ruang, ditemukan pula 18 cap tangan, beberapa di antaranya dihubungkan oleh garis-garis melengkung. Sedikitnya 15 cap tangan juga ditemukan di Goa Tembus. Sementara di Goa Sahak, ditemukan 70 cap tangan, yang warnanya telah menjadi terang karena terkikis oleh cairan atau deposisi kalsid selama musim kering.
Salah satu kawasan di Berau yang berbatasan dengan Kutai Timur (Kutim), mempunyai pusaka alam karst (gunung kapur) yang perlu dilestarikan.Pusaka alam tersebut, dianggap sebagai sumber mata air yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan masyarakat sekitar.“Pusaka alam karst Mangkalihat-Sangkulirang (Mangkulirang) yang terletak di perbatasan Berau-Kutim akan menjamin tersedianya sumber dan pembentuk utama kehidupan manusia Kalimantan, yaitu air dan sungai di masa depan,” ungkap Heddy S. Mukna, Asisten Deputy Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Disampaikan pula, kawasan karst merupakan pembeda utama dengan wilayah lain yang tidak bergunung karst -pembentukan kebudayaan yang khas karst. Untuk itu, kehancuran kawasan pusaka alam karst akan menjadi suatu bencana. “Jadi pengelolaan dan perlindungan kawasan karst sangat diperlukan untuk menjaga warisan pusaka,” ujarnya.
Disebutkannya pula, kawasan karst yang berada di perbatasan Berau-Kutim, merupakan pusaka alam dan pusaka budaya berkelas dunia, karena kawasan karst tersebut merupakan karst raksasa.
Selain itu juga merupakan sumber air bagi sungai-sungai di Kutim dan Berau. Sebagai daerah resapan, air dari kawasan karst mengalir ke 4 sungai utama di Kutim, yakni Bengalon, Bangka, Karangan, Kerayan dan Baai. Sedangkan di Berau mengalir di 3 sungai utama, yakni Lesan, Tabalar dan Dumaring.(vb/fik/foto;blackulin.com)

sumber :http://www.vivaborneo.com/menata-karst-mangkalihat-sebagai-potensi-geowisata.htm
Simak Selengkapnya>>

Turis Asing Minati Kerajinan Khas Kaltim




BALI – vivaborneo.com – Antusias para turis asing akan kerajinan khas Kaltim sangat besar, hal ini dilihat dari  kunjungan mereka ke stand Kaltim  sekaligus membeli beberapa  kerajinan khas Kaltim yang dijual sebelum acara pembukaan Borneo Extravaganza 2010, di Discovery Shopping Mall, Kuta, Bali. Borneo Extravaganza yang merupakan ajang  promosi pariwisata digelar dari tanggal 8 hingga 10 Oktober hingga adalah salah satu kegiatan pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerja sama dengan provinsi yang ada di Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan
Menurut Plt. Kadis Pariwisata Kaltim, H. Sulaiman, ditetapkannya Bali sebagai tempat diselenggarakannya Borneo Extravaganza ini untuk lebih menarik minat wisatwan luar maupun domestik ke Kalimantan khususnya Kaltim.
” Acara ini pertama kali diselenggarakan di Mal Taman Anggrek, Jakarta, pada 2004 lalu. Tahun ini merupakan penyelenggaraan Borneo Extravaganza keempat. Kenapa sekarang di Bali, karena turis asing maupun lokal banyak dibali, sehingga lebih dekat untuk mereka ketahui informasi pariwisata di Kalimantan khususnya Kaltim, “ jelas Sulaiman
Disadarinya bahwa tingkat kunjungan wisatawan ke Kaltim dengan wisata petualangan, tidak sebanyak Bali. “Rata-rata 21 ribu wisatawan pertahun, “ jelas Sulaiman. Belum banyaknya informasi yang diperoleh oleh wisatawan akan keanekaragaman flora dan fauna serta budaya dan tak ketinggalan pesona alam  Kaltim merupakan salah satu faktor belum maksimalnya kunjungan wisata ke Kaltim.
”Selain itu sarana dan prasaran ke dan dari objek wisata juga berpengaruh, saya berharap kabupaten kota yang memilki potensi budaya yang mempesona bisa lebih memperhatikan hal tersebut, “ kata Sulaiman lagi.
Saat membuka Borneo Extravaganza 2010 tersebut Ahli Bidang Ekonomi dan Iptek Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Titin Soekarya, yang mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik, mengatakan pesona wisata yang dimiliki Kalimantan sama indahnya dengan Bali,
“Kalimantan tidak kalah dengan Bali. Pulau itu kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya serta pesona alamnya. Melalui pameran wisata seperti inilah kesempatan membuka apa-apa yang dimiliki pulau itu kepada para turis. Semoga lebih banyak wisatawan mancanegara berkunjung ke Borneo,” kata Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Iptek Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Titin Soekarya, dalam acara pembukaan pameran itu di Kuta,
Dikatakan, luasnya wilayah Nusantara harus ditawarkan pada para turis asing. Jenis wisata yang potensial, antara lain berpetualang masuk hutan belantara, mendaki gunung, dan melihat langsung hutan yang selama ini dikenal dengan paru-paru dunia, seperti Taman Nasional Danau Sentarum dan Betung Kerihun di Kabupaten Kapuas Hulu.
Selama pameran, Borneo Extravaganza antara lain menyajikan paparan tentang potensi wisata yang kini digiatkan, seperti seperti Museum Mulawarman, Tugu Khatulistiwa, serta Wisata Sungai Mahakam, Barito, dan Kapuas. Sedangkan pada wisata kuliner, disajikan sensasi menikmati makanan khas Kalimantan tempo dulu dan sekarang yang sudah bercampur dengan budaya Melayu dan Bugis. Kaltim dikuti oleh beberapa kabupaten kota yakni, Tarakan, Samarinda, Bontang, Kutai Timur dan Berau.
Paul, wisatawan asing dari Belanda ini sangat mengagumi tari-tarian yang dipersembahkan oleh keempat provinsi tersebut dan mengatakan berminat untuk mengunjungi Kalimantan.
“Saya cukup senang dengan adanya acara ini, Saya mendapatkan informasi yng cukup banyak tentang pariwisata yang ada di Kalimantan. Saya dan isteri akan ke Pulau Derawan karena  pulau ini punya pesona yang sangat indah dan menawan. Menurut informasi disana cocok untuk menyelam, saya suka melihat pesona bawah laut, “ kata Paul dalam bahasa Inggris yang cukup fasih. (vb/aer)

sumber :http://www.vivaborneo.com/turis-asing-minati-kerajinan-khas-kaltim.htm
Simak Selengkapnya>>

Mengenal Lebih Dekat Balai Haor Kuning


BALAI haor kuning merupakan peralatan utama saat upacara Beluluh. Balai yang dibuat dari haor (Bambu) kuning ini dibuat tiga tingkat dengan jumlah tiang sebanyak 41 buah yang diletakkan di atas jalik atau tikar rotan.
Balai Haor Kuning
Balai Haor Kuning
Balai ini diletakkan tepat ditengah ruangan Kedaton tempat dilakukan upacara Beluluh Sultan dan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Sementara jalik itu sebelumnya sudah diberi ornamen yang memvisualkan dua pasang naga sedang bermain di taman kolam lengkap dengan buih-buih.
Ornamen naga dengan segala perniknya ini terbuat dari hamparan butiran beras berwarna 7 macam yang disebut Tambak Karang. Kemudian dari empat sudut hamparan jali berornamen dua pasang naga itu diletakkan masing-masing dua buah pisang ambon dan sebutir telur ayam dibagain kepala naga.
Pembantu Upacara Sakral Kesultanan Demong Nata Pernata mengatakan pisang itu melambangkan taring naga sedangkan telur melambangkan kumala naga.
Aksesoris lainnya adalah pucuk-pucuk daun pohon beringin yang disebut rendu ditempatkan diatas balai berfungsi sebagai atap balai selain lembaran kain kuning yang sudut-sudutnya dipegang oleh empat pemuda yang disebut Kirab Tuhing. Sedangkan di depan undakan atau tangga dari balai 41 kaki, diletakkan sebuah lesung batu kecil yang harus diinjak Sultan ketika menaiki balai. Pada 41 tiang balai haor kuning itu di bagian atasnya diselipkan hiasan berupa Janur ringgitan.
Dalam pelaksanaan Beluluh ini, pemegang ritual utamanya adalah Belian (sebutan untuk tokoh laki-laki spritual Adat Kutai yang ahli mantera) didampingi pula Dewa Bini (sebutan untuk tokoh wanita spritual Adat Kutai yang ahli mantera). Serta dikiri dan kanan balai  terdapat jajaran Pangkon Laki dan Pangkon Bini. Para Pangkon ini terdiri dari 7 Pangkon Laki dan 7 Pangkon Bini.
Tugas para Pangkon Laki-Bini adalah masing-masing membawa kipas, lante atau tabung tempat surat, keris, bokor pucuk rebong, dan tempat penginangan. Untuk Pangkon Bini, kipas, lante, keris, bokor dan penginangan bahannya terbuat dari perak, sementara Pangkon Laki bahannya terbuat dari kuningan.
“Keris perak maupun kuningan gunanya sebagai pengeras, sedang bokor pucuk rebong tempat membuat beras kuning yang akan dihamburkan ke udara oleh Dewa,” papar Demong Nata saat ditemui usai Ritual Beluluh.
Sedangkan disekeliling Balai ditempatkan lima Peduduk yaitu sebuah mangkuk berisi masing -masing sebuah kelapa tua, gula merah, daun sirih, pinang, jarum, benang, lilin dan beras dibagian dasar mangkuk.
Dibagian belakang balai terdapat balai yang lebih kecil bernama Balai Penyembahan yang berisi Peduduk dan baju persalinan Sultan, yang bermakna sebagai pengganti diri Sultan.
Demong Nata menjelaskan bahwa Balai dan perlengkapannya itu diletakkan menghadap matahari terbit sedangkan bagian belakang balai menghadap ke matahari terbenam. Usai upacara beluluh, Sultan berpantangan menginjakkan kakinya ketanah  secara langsung.
“Selama seminggu usai beluluh ini Sultan tidak menginjak tanah secara langsung, serta biasanya Sultan selalu disertai para Pangkon,” demikian ungkapnya. (hmp03)

sumber :http://www.vivaborneo.com/mengenal-lebih-dekat-balai-haor-kuning.htm
Simak Selengkapnya>>

Erau Juga Diminati Pengunjung Dari Luar Kalimanta



PESTA adat dan budaya Erau Kutai Kartanegara (Kukar) yang tahun ini bertajuk Erau Pelas 7 Benua yang digelar 11 hingga 18 Juli lalu mampu menjadi magnet bagi para pengunjung atau wisatawan.
Jurnalis Manacanegara ini juga datang ke Tenggarong untuk meliput dan mangabadaikan Erau 2010
Jurnalis Manacanegara ini juga datang ke Tenggarong untuk meliput dan mangabadaikan Erau 2010
Hal tersebut terlihat dari pantauan harian ini ke hotel-hotel yang ada di Tenggarong rata-rata tingkat huniannya mencapai 100 persen atau penuh. Selain itu jalan-jalan protokol di Kota Raja Tenggarong juga padat selama pelaksanaan Erau. Bahkan di waktu-waktu tertentu jembatan Kartanegara yang menjadi salah satu pintu masuk ke ibu kota kabupaten Kukar itu terjadi kemacetan.
Keramaian juga terlihat di tempat-tempat diadakannya kegiatan penunjang Erau, diantaranya Museum Mulawarman, Panggung Seni dan pasar rakyat di kawasan Jl KH Achmad Mukhsin, pasar rakyat di Pasar Seni serta Expo Erau 2010 di kompleks olahraga Kukar tenggarong Seberang yang selalu ramai pengunjung.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Erau 2010 mendapat perhatian khusus dari masyarakat Kukar sendiri maupun pengunjung dari luar Kukar bahkan beberapa wisatawan asing.
Diantaranya yaitu rombongan dari kabupaten Wajo (Sulsel) berjumlah 70 orang yang dipimpin langsung oleh Bupati nya, khusus datang ke Tenggarong untuk melihat pesta adat dan budaya Erau.
Selain itu datang juga rombongan tour wisata dari Bangka Belitung berjumlah 20 orang pengusaha, yang ingin menikmati keunikan Erau sekaligus mengembangkan bisnisnya.
Lain lagi puluhan mahasiswa asal Jogjakarta, yang datang ke Kukar untuk melihat kebudayaan daerah yang terkenal dalam sejarah sebagai tempat berdirinya kerajaan Hindu tertua di Nusantara.
Salah satu wisatawan lokal asal Jakarta, Endang datang ke Tenggarong  bersama rekan dan keluarganya mengaku penasaran dengan Erau setelah melihat promosi Erau oleh Pemkab Kukar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Bahkan saat promosi Erau di Plaza Indonesia saya juga hadir, disitu saya melihat photo-photo dan video tentang Erau  yang sangat unik dan menarik perhatian saya,” ujar Endang saat ditemui padapelaksanaan Erau baru-baru ini.
Dirinya berharap agar ditahun berikutnya, Erau tetap diadakan pada saat musim liburan. Karena baginya agar lebih mudah merencanakan kunjungan wisata keluarganya ke Tenggarong. (vb/heru)

sumber :http://www.vivaborneo.com/erau-juga-diminati-pengunjung-dari-luar-kalimantan.htm
Simak Selengkapnya>>

Makna Tato Dalam Masyarakat Dayak



Jangan kaget jika masuk ke perkampungan masyarakat dayak dan berjumpa dengan orang – orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato yang menghiasi tubuh mereka itu bukan sekedar hiasan, apalagi supaya dianggap jagoan. Tetapi, tato bagi masyarakat dayak memiliki makna yang sangat mendalam. Tato merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang.
Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan. Ada atuarn – aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang di tato maupun penempatan tatonya. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” atau penerang dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.Karena itu, semakin banyak tato, “obor” akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak – banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan – aturan adat.
Setiap sub-suku Dayak memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan tato. Bahkan ada pula sub-suku dayak yang tidak mengenal tradisi tato, ungkap Mering Ngo, warga suku Dayak yang juga antropolog lulusan Universitas Indonesia.Bagi suku dayak yang bermukim perbatasan Kalimantan dan Serawak Malaysia, misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung. Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di Kalimantan, jarak antar kampung bisa ratusan kilometer dan harus ditempuh menggunakan perahu atau berjalan kaki menyusuri sungai dengan waktu pengembaraan yang tidak mengenal lelah dan waktu.
Di kalangan masyarakat dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren ) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.
Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunanya ditato dengan motif sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan sangat detail dibandingkan tato untuk golongan menengah ( panyen ).
Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi menganyau atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ngayau ini sudah tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa.
Tato atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki – laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki – laki, tato bisa dibuat di bagian manapun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan.
Jika pada laki – laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius. “Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh -roh jahat atau selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa,” ujar Yacobus Bayau Lung.
Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya disandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii pada seluruh paha.
Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat disebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang di tato maupun keluarganya.
Bagi perempuan Dayak memiliki tato dibagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis. Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagia lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato dibadan. Tato yang dibuat diatas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi – jadian atau disebut tuang buvong asu.
Baik tato pada lelaki atau perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang. Seiring dengan perkembangan jaman kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.(vb-01/m. syaifullah/try harijono).

Simak Selengkapnya>>

Sumpit, Senjata Utama Warga Dayak Borneo



Suku Dayak di pulau Borneo mengenal berbagai macam senjata yang biasa digunakan untuk berburu dan berperang pada zaman dahulu hingga saat ini, atau untuk kegunaan sehari-hari semisal untuk berkebun di ladang. Beberapa jenis senjata tradisional tersebut diantaranya sumpitan (sipet), mandau, lonjo (tombak), perisai (telawang), dan taji.Ketua Dewan Adat Dayak Kaltim Barnabas Sebilang mengungkapkan, senjata sumpitan merupakan senjata kebanggaan dan menjadi senjata utama bagi masyarakat Dayak. “Sebenarnya senjata utama suku Dayak itu bukan mandau,” ujar Barnabas. “Kalau mandau hanya untuk memenggal kepala orang yang sudah mati, yang terjadi zaman dulu. Racun pada sumpitan ini sampai sekarang tidak ada penawarnya, entah kalau obat-obatan modern.”
Sumpit harus terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin, tampang, lanan, berang-bungkan, rasak, atau kayu plepek.
Sumpit terbuat dari batang kayu bulat sepanjang 1,9 meter hingga 2,1 meter. Tak ketinggalan juga tamiang atau lamiang, yaitu sejenis bambu yang berukuran kecil, beruas panjang, keras, dan mengandung racun.Diameter sumpit dua hingga tiga sentimeter yang berlubang di bagian tengahnya, dengan diameter lubang sekitar satu sentimeter. Lubang ini untuk memasukkan anak sumpit atau damek. Racun damek oleh subetnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagi getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular dan kalajengking.
Getah pohon yang digunakan untuk racun di antaranya getah kayu ipuh, kayu siren, atau upas, dicampur dengan getah kayu uwi ara, atau getah toba. Bisa binatang, seperti ular, akan menguatkan efek racun ini.
Menurut Barnabas, hingga sekarang ini belum ada penawar untuk racun anak sumpit yang sudah masuk ke pembuluh darah. Anehnya, lanjut Barnabas, meskipun sangat beracun, daging binatang buruan aman untuk dimakan. “Berburu kan dagingnya untuk dimakan. Akan tetapi, meskipun racun sumpit sangat kuat, kita aman saja makan daging binatang buruan tersebut, bahkan kalau kita menjilat racun itu sebenarnya tidak apa-apa,” ujar Barnabas. Meski demikian, kalau racun damek itu langsung masuk ke darah, manusia atau semua binatang akan segera mati. “Kecuali ayam. Kami juga tidak tahu kenapa ayam tidak mati oleh racun tersebut,” ujarnya.
Pembuatan sumpit dikerjakan dengan sangat cermat dan teliti oleh warga Dayak. Hampir semua subetnis Dayak di pulau Borneo menggunakan sumpit, namun yang sangat terkenal lihai membuat sumpit, antara lain subetnis Dayak Ot Danom, Apu Kayan, Punan, Pasir, Ot, Siang dan Dayak Bahau.  “Secara tradisional, kalau ingin tepat sasaran dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya,” tutur Ferain Mora, Kepala Adat Dayak Maanyan, Kalteng.
Di bagian ujung moncong dipasangi mata tombak terbuat dari besi atau batu gunung yang diikat dengan anyaman uei (rotan) yang disebut sangkoh. Kegunaan sangkoh ini untuk cadangan senjata saat binatang buruan yang sudah terluka dan belum mati ternyata berbalik menyerang penyumpit yang belum sempat mengisi kembali anak sumpit.
SELAIN beracun, kelebihan yang dimiliki senjata ini, dibandingkan dengan senjata khas Dayak lainnya, yakni kemampuan mengenai sasaran dalam jarak yang relatif jauh.
Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau sipet ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 m. Selain itu, senjata ini juga tidak menimbulkan bunyi. Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar musuh maupun binatang buruan yang sedang lengah. Selain kegunaan berburu dan berperang, kegunaan lain sumpit adalah untuk upacara adat atau sebagai mas kimpoi dalam pernikahan adat Dayak. “Saat bertunangan, senjata sumpit ini juga bisa digunakan sebagai mas kawin,” ujar Barnabas.
Harga jual sumpit atau sipet telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar jipen ije atau due halamaung taheta. Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari – hari, seperti berburu. Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak – injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.(vb-01/prasetyoeko)


Simak Selengkapnya>>